Selamat Datang,
YAYASAN INSAN SEMBADA (dulu dikenal sebagai YAYASAN INDONESIA SEJAHTERA) dan disingkat YIS adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat. YIS bekerjasama dengan lembaga donor memberikan pelayanan program kepada masyarakat yang kurang beruntung di berbagai daerah di Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Bidang kegiatan yang dilakukan meliputi kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi rakyat, pelatihan-pelatihan, pengembangan lembaga lokal, pertanian ramah lingkungan, dan pembangunan perdamaian. Lembaga donor yang pernah mendukung program YIS di antaranya Christian AID, EZE/EED Germany, USAID, Hivos, NZAID, UNICEF, dan UNDP.
Berdasar pengalaman implementasi program lebih dari 30 tahun, YIS juga melayani konsultasi manajemen program pengembangan masyarakat yang meliputi need assessment program, perencanaan program, pengembangan program, evaluasi proyek, dan pelatihan-pelatihan. Organisasi yang pernah menggunakan jasa YIS di antaranya WVI, CWS, CRS, CCF, CARE, Misereor, OXFAM, GTZ, AusAID, USAID, Depkes, Bappenas, dan lain sebagainya.
Informasi terbaru dari YIS
Pilih Halaman:
[1] [2] [3] [4]
Pembangunan Ekonomi, Kemiskinan dan Bencana
Refleksi 2011 & Catatan Awal Tahun 2012
Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)
Tingginya pertumbuhan ekonomi dan membanjirnya investasi asing ke Indonesia ternyata tidak berkorelasi positif dengan upaya pengentasan kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa penurunan kemiskinan di tahun 2011 hanya mencapai 1,2 %. Pada Maret 2010 hingga September 2011, jumlah penduduk miskin sebesar 31, 02 juta menjadi 29,89 juta. Penduduk miskin di perkotaan berkurang sebanyak 0,09 juta orang, dari 11,05 juta menjadi 10,95 juta orang. Sementara di daerah pedesaan berkurang 0,04 juta orang, dari 18,97 juta menjadi 18,94 juta orang. Jumlah tersebut masih belum memperhitungkan sejumlah praktek penggusuran dan perampasan tanah untuk investasi. Mengacu laporan konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), bahwa sepanjang tahun 2011 terdapat 163 kasus sengketa tanah, terdiri dari 97 atau 60% kasus di sector perkebunan, 36 kasus (22%) di sector kehutanan, 21 kasus (13%) terkait infrastruktur, 8 kasus (4%) di sector tambang dan 1 kasus diwilayah tambak/pesisir (1%). Kasus-kasus ini terjadi hampir di seluruh Propinasi di Indonesia. Puluhan ribu penduduk pedesaan mendadak menjadi orang terusir dan semakin miskin akibat kehadiran investasi.
Kemiskinan, utamanya akibat dari Perampasan Tanah dan Sumber Daya Alam (SDA) atas nama investasi, selalu menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat, laki-laki dan perempuan, dewasa, lanjut usia maupun anak-anak. Laki-laki maupun perempuan pencari nafkah keluarga, kehilangan mata pencaharian untuk menghidupi dan merawat rumah tangganya, membangun harapan dan mempertahankan kehidupan yang bermartabat. Perempuan terpaksa harus menambah beban kerja, untuk penyediaan pangan guna mempertahankan hidup. Anak-anak hidup dalam keterbatasan pangan dan pendidikan. Seluruh penduduk setempat, hidup dalam situasi kehilangan rasa aman dan tanpa perlindungan terhadap hak-hak mereka.
Triliunan Dana Rakyat Miskin, Tepat Sasaran(kah)?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat puluhan juta penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Jumlahnya mencapai 29,89 juta jiwa per September 2011 atau setara 12,36 persen dari total penduduk Indonesia. Rinciannya, jumlah penduduk sangat miskin pada periode itu sebanyak 10,09 juta jiwa atau 4,17 persen. Sedangkan penduduk miskin 19,79 juta jiwa, atau 8,19 persen dari total jumlah penduduk. Data BPS juga menyebutkan jumlah penduduk hampir miskin mencapai 27,82 juta jiwa atau 11,5 persen.
Meski relatif turun dibanding Maret 2011 sekitar 30,02 juta jiwa, pemerintah sepertinya tak cukup puas dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Dana sekitar Rp 99 triliun untuk program itupun pun digelontorkan selama 2012. Dana itu berasal dari gabungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta swasta.
Best Practice Proses Pendampingan KSM Home Industry di Kabupaten Klaten : "Dari Persaingan yang Tidak Sehat Jadi Bermartabat"
Kuwel yang letaknya bersinggunan di antara 3 desa (Desa Keprabon, Kebonharjo dan Polan) sejak dahulun dikenal sebagai sentra kerajinan tangan di Kabupaten Klaten. Awalnya daerah Kuwel dikenal dengan kerajinan tanduk dan sempat berjaya pada tahun 60-an. Ketika kerajinan ini mulai surut (kalah bersaing dengan produk plastic dari pabrik), masyarakat berupaya mempertahankan citra Kuwel sebagai sentra kerajinan tangan dengan memproduksi produk-produk yang lebih fungsional seperti, kipas, dompet, tas, perlengkapan dapur dan produk-produk lain dengan bahan dasar limbah (reuse). Saat ini tidak kurang dari 50 perajin yang melakukan usaha itu.
Sebelum YIS masuk sebagai pendamping, perajin mempunyai persaingan yang tidak sehat, utamanya dalam melakukan pemasaran produk. Banyak sekali ‘kasus konyol’ yang terjadi ketika mereka harus bersaing dengan rekannya sesama perajin untuk memperoleh pesanan dengan menurunkan harga hingga batas yang tidak rasional. Akibatnya banyak sekali perajin yang gulung tikar karena tidak mampu mengembalikan modal produksi. Dengan masuknya YIS telah membuka peluang pemasaran yang lebih luas dengan adanya pameran-pameran, pemasaran via internet, kunjungan-kunjungan dan dialog dengan berbagai stakeholder yang sebelumnya belum pernah dilakukan. YIS juga telah memberikan pendampingan manajemen dan pemberian stimulant modal usaha kepada kelompok yang sangat bermanfaat bagi anggota kelompok.
YIS Selenggarakan Training of Trainer PM
Wisma Sejahtera Surakarta, 25-28 Oktober 2011
Proses pengembangan masyarakat (PM) tidak jarang harus dilakukan dengan melakukan pelatihan. Pelatihan yang baik adalah yang didesain secara baik sehingga mencerminkan kebutuhan serta dilakukan oleh fasilitator yang memiliki ketrampilan didaktik metodik. Pelatihan ini mencoba untuk membekali para peserta mengenai konsep pelatihan partisipatif, ketrampilan memfasilitasi, serta mendesain pelatihan di bidang PM.
Pelatihan ini telah didesain secara khusus, sehingga peserta yang telah mengikuti pelatihan akan mampu memahami konsep, terampil memfasilitasi, serta dapat membuat desain pelatihan yang partisipatif di lembaganya masing-masing. Adapun materi-materi yang nantinya akan disampaikan dalam pelatihan ini, antara lain: konsep pelatihan partisipatif, keterampilan fasilitasi pelatihan, metode pelatihan partisipatif, desain pelatihan, praktek memfasilitasi, serta rencana tindak lanjut (RTL).
Kota Solo Bentuk Warga Peduli HIV/AIDS Tingkat RT
SOLO - Suara Karya. Komisi Penanggulangan HIV-AIDS (KPA) Kota Solo akan membentuk kelompok warga peduli HIV-AIDS di setiap RT. Pembentukan warga peduli HIV-AIDS ini mendesak dilakukan mengingat angka kasus HIV-AIDS di Kota Solo dalam kurun waktu 2005 hingga September 2011, mencapai 627 orang pengidap HIV-AIDS. Dari jumlah tersebut, 255 di antaranya pengidap HIV dan 372 positif AIDS. Sedangkan 191 penderita telah meninggal.
"Yang lebih mengkhawatirkan, di Solo saat ini penularannya sudah mulai beralih ke ibu rumah tangga," kata Sekretaris KPA Solo, Harsoyo Soepodo, di sela-sela pertemuan lintas sektoral tiga daerah-Kota Solo, Kabupaten Sragen, dan Klaten-penanggulangan HIV-AIDS di Solo, Selasa (25/10).
Dari jumlah kasus itu, sebanyak 140-an di antaranya merupakan ibu rumah tangga. Tren penularan kepada kaum ibu itu ditemukan sejak tahun lalu. Sebelumnya penularan lebih banyak disebabkan penggunaan narkotika jarum suntik. "Jumlah penderita dari kalangan ibu rumah tangga di Solo terus mengalami peningkatan," katanya.
70% Masyarakat Indonesia BAB Sembarangan
INILAH.COM, Jakarta - Budaya hidup sehat sepertinya masih 'menjauh' dari sebagian masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti, hampir 70% masyarakat masih terbiasa buang air besar (BAB) sembarangan. Di antara negara-negara Asean, Indonesia masih tertinggal terkait jangkauan akses penduduk untuk sektor air dan sanitasi. Malaysia memiliki 100 persen cakupan akses air dan 96 persen cakupan sanitasi. Indonesia? Di bawah Filipina dan Kamboja!
Dampaknya, sebanyak 70 juta penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan. Imbasnya, dari setiap 100 ribu bayi yang lahir, 75 di antaranya meninggal sebelum menginjak usia lima tahun akibat diare. Setiap tahun, 15 ribu anak meninggal akibat yang sama. Ada lebih dari 423 kasus per 1.000 penduduk.
Tak hanya diare. Penyakit demam tifus, kolera hingga hepatitis A menghantui masyarakat akibat mikroba yang terbawa oleh perilaku tidak sehat masyarakat. Parahnya, bagi orang miskin, sanitasi tidak menjadi prioritas utama. Ini yang membuat 80 persen air tanah tercemar.
Pendidikan Untuk Semua
Kolom Fokus Bergetar Edisi Khusus EFA, diterbitkan atas kerjasama YIS dan Education Network for Justice Indonesia
Pendidikan untuk Semua (education for all atau EFA) merupakan inisiatif internasional yang diluncurkan di Jomtien Thailand pada tahun 1990 untuk membawakan manfaat pendidikan pada seluruh warga negara dan seluruh masyarakat. Perintah ini untuk merealisasikan tujuan, kerjasama seluruh komponen pemerintahan, kelompok-kelompok masyarakat, pengembangan agen-agen pendidikan sebagaimana kesepakatan UNESCO dan Bank Dunia untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pendidikan berikut:
- Memperluas dan meningkatkan pelayanan pendidikan anak usia dini serta anak-anak miskin dan cacat;
- Menjamin bahwa pada tahun 2015 seluruh anak, baik laki-laki maupun perempuan, dari manapun asal dan sukunya sudah mendapatkan pelayanan pendidikan dasar yang berkualitas;
- Menjamin seluruh pemuda dan orang dewasa untuk mendapatkan akses yang sama pada program pendidikan dan ketrampilan hidup;
- Untuk meningkatkan kemampuan membaca orang dewasa hingga 50% pada tahun 2015, khususnya perempuan, dan akses yang seimbang pada pendidikan dasar untuk semua secara berkelanjutan;
- Menghilangkan bias gender pada pendidikan dasar`dan menengah pada tahun 2005 dan meningkatkan keseimbangan gender pada tahun 2015, ini difokuskan untuk memberikan kesempatan pendidikan secara penuh dan berimbang;
- Meningkatkan seluruh aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulan, popularitas, dan keterukuran keluaran pembelajaran, serta bebas buta huruf, buta hitung, dan esensi ketrampilan hidup.
Implikasi pendidikan untuk semua sangatlah beragam, Malaysia misalnya mengembangkan pendidikan dengan tidak meninggalkan aspek budaya lokal, Singapura menyelenggarakan pendidikan yang bersifat integratif seluruh kebijakan nasional, dan Indonesia bagaimana? Lantas Solo bagaimana?
Geliat Usaha Home Industry di Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah
Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten secara umum merupakan wilayah agraris. Namun demikian sebagian anggota masyarakatnya juga mempunyai usaha-usaha ekonomi produktif alternatif. Salah satu usaha ekonomi produktif yang menonjol adalah usaha handy craft yang diproduksi oleh rumah tangga (Home Industry) yang tersebar di beberapa desa di kecamatan ini, yaitu: Desa Kebonharjo, Desa Keprabon dan Desa Polan.
Jumlah perajin di tiga lokasi ini mencapai ribuan orang yang umumnya merupakan perajin kecil yang omzetnya kurang dari 100 juta. Usaha home industri ini sudah ada sejak 4 dekade terakhir dan biasanya diturunkan secara turun temurun kepada generasi berikutnya.
Potensi/keunggulan usaha home industry ini cukup besar, yaitu:
- Mampu menyerap banyak tenaga kerja yang tersebar di masing-masing unit usaha.
- Memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat di tingkat desa.
- Menerapkan prinsip recycle, reuse, dan reduce karena menggunakan bahan baku “limbah”.
- Tiga desa ini berpotensi menjadi KAWASAN TERPADU DESA WISATA.
Pelatihan Pemanfaatan Bahan Alam Sebagai Pupuk dan Pengendali Hama
Kegiatan ini sebagai upaya dalam mendukung penerapan program pertanian ramah lingkungan di Desa Karanglo. Pelatihan yang rencananya akan diikuti 50 petani hamparan ramah lingkungan dari 6 (enam) dampingan YIS ini, bertujuan untuk: Pertama. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kelompok tani maupun petani dalam menerapkan serta mengelola pertanian ramah lingkungan secara mandiri. Kedua. Meningkatkan kemampuan petani dalam menyediakan sarana produksi (pupuk, pestisida, dan benih) yang saat ini masih tergantung dari pihak lain. Ketiga. Diperolehnya dukungan dari beberapa stakeholder baik pemerintah maupun swasta dalam pengembangan pertanian ramah lingkungan.
Pelatihan ini telah didesain secara khusus, sehingga peserta yang telah mengikuti pelatihan akan mampu menyediakan/membuat sarana produksi pertanian yang ramah lingkungan secara mandiri, mampu meningkatkan pemakaian produk organik disetiap lahan pertanian di kecamatan Polanharjo dan Tulung, serta mampu mengupayakan adanya dukungan dari pemerintah dalam mendukung pertanian ramah lingkungan baik melalui program maupun kebijakan yang sesuai dengan konteks wilayah.
Evaluasi Kualitas Penyelenggaraan Pendidikan
Memaknai Kembali Hardiknas
Jika berbicara kualitas pendidikan, perlu kita evaluasi dan dikaji ulang bersama-sama, terutama bagi semua komponen pendidikan yang secara langsung memberikan kontribusi terhadap jalannya pendidikan. Hal itu dapat dirunut secara vertikal, dari pemerintah sampai tingkat sekolah. Sudahkah pemerintah selama ini memberikan pengayoman bagi kelancaran proses pendidikan? Dan, sudahkah pendidik bekerja secara profesional?
Di tingkat sekolah, guru sebagai komponen utama pendidikan juga perlu mengevaluasi kinerjanya dalam mewujudkan keberhasilan proses pendidikan secara menyeluruh. Tugas dan tanggung jawabnya harus didasarkan atas semangat pengabdian untuk mendedikasikan hidupnya guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Contoh yang Baik Melihat apa yang telah digagas Ki Hajar Dewantara, ”ing ngarso sung tuladha, ing madya mangunkarsa, tut wuri handayani” memberikan makna bahwa apabila seorang guru ditempatkan di depan, harus dapat menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya. Dan, bila berada di tengah-tengah siswa didik, harus dapat memberikan semangat.




